Home » , » Puasa Arafah Dan Idul Adha Ikut Pemerintah Indonesia

Puasa Arafah Dan Idul Adha Ikut Pemerintah Indonesia

Puasa_Arafah_Ikut_Pemerintah_Indonesia

Berdasarkan sidang itsbat kemarin sudah dipastikan bahwa hari raya Idhul Adha 1435 H di Indonesia jatuh pada tanggal hari Minggu, 5 Oktober 2014 M atau bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1435 H, berarti sudah di maklumi bahwa puasa arafah jatuh sehari sebelum Hari Raya Idhul Adha, hari Sabtu, tanggal 4 Oktober 2014 atau 9 Dzulhijjah 1435 H.

Berbeda dengan Saudi Arabia yang menetapkan hari raya Idhul Adha 1435 H jatuh pada tanggal 4 Oktober 2014. Jadi untuk tahun ini Hari Raya Idul Adha berbeda antara Pemerintah Indonesia dengan Saudi Arabia.

Lalu muncul pertanyaan, Puasa Arafah Ikut Siapa, Pemerintah Indonesia ataukah Saudi Arabia?

Jawab.
Puasa Arafah Ikut Pemerintah Indonesia, berikut rincian jawabannya. 

Ikuti Hilal di Negeri Masing-Masing, Bukan Ikut Wukuf di Arafah

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ


“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

Hilal di negeri masing-masinglah yang jadi patokan, itulah maksud perintah hadits. 

Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits (Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya  untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya,

Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku

“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.

“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya melihatnya dan  masyarakatpun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه


“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi,

“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).

Ini jadi dalil bahwa hilal di negeri kita tidak mesti sama dengan hilal Kerajaan Saudi Arabia, hilal lokal itulah yang berlaku.

Kalau hilal negara lain terlalu dipaksakan berlaku di negeri ini, coba bayangkan bagaimana hal ini diterapkan di masa silam yang komunikasinya belum maju seperti saat ini. Tentu berita wukuf di Arafah sulit sampai ke negeri lain karena terkendalanya komunikasi. Syariat dulu dan syariat saat ini berlaku sama. Maka kesimpulan kami, hilal lokal lebih memudahkan kaum muslimin dalam menentukan moment penting mereka.

Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul untuk hadits Kuraib, “Setiap negeri memiliki penglihatan hilal secara tersendiri. Jika mereka melihat hilal, maka tidak berlaku untuk negeri lainnya.”

Imam Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Hadits Kuraib dari Ibnu ‘Abbas jadi dalil untuk judul yang disampaikan. Menurut pendapat yang kuat di kalangan Syafi’iyah, penglihatan rukyah (hilal) tidak berlaku secara umum. Akan tetapi berlaku khusus untuk orang-orang yang terdekat selama masih dalam jarak belum diqasharnya shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 175). Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa hilal internasionallah yang berlaku. Maksudnya, penglihatan hilal di suatu tempat berlaku pula untuk tempat lainnya.

Dan pada hadits lain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

( إذا دخل العشر وعنده أضحية يريد أن يضحي فلا يأخذن شعرا ولا يقلمن ظفرا )


Bila hilal /bulan sabit yang menandai dimulainya bulan Zul Hijjah, sedangkan engkau hendak menyembelih kurban, maka jangan sekali kali engkau memendekkan rambutnya dan jangan pula memotong kukunya. (HR. Muslim)

Nampak dengan jelas pada hadits ini bahwa iedul adhha dikaitkan dengan terbitnya hilal, sedangkan waktu terbitnya hilal di setiap negri berbeda dengan negri lainnya. Dengan demikian, perayaan iedul adha dikaitkan dengan waktu dan bukan dengan aktifitas jamaah haji di Makkah atau Arafah atau Mina.

Bila demikian adanya, maka dapat disimpulkan bahwa puasa Arafah juga dikaitkan dengan waktu dan bukan dengan aktifitas jamaah Haji di Makkah atau Mina atau Arafah.

Dirangkum dari:
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (http://rumaysho.com)
Ustadz Dr.M Arifin Badri,LC,MA (http://pengusahamuslim.com)
Ustadz Ammi Nur Baits (http://www.konsultasisyariah.com)
---

Lihat juga ulasan dari Bapak Mukhtar Ali selaku Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama (Kemenag).

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Rohis Facebook

+ Create Comment + 1 comments

7 Oktober 2014 13.48

Dan saya ikut Sholat Idhul Adha kemarin hr Ahad-nya. Semoga pedoman dalam penetapan hari raya idhul adha dan fitri bisa semakin disepakati bersama. Bhwa Hilal di masing-masing wilayah jelas berbeda

Poskan Komentar

Terima Kasih banyak atas saran dan kritiknya.

Sama seperti peraturan yang dibuat oleh para blogger pada umumnya.., cuma disini saya harapkan agar para pengunjung untuk lebih fokus pada artikel kami yang bertemakan Agama (Islam), khususnya untuk saudara-saudari kami yang Muslim dan Muslimah.

0. Yang OOT silahkan masuk ke menu Buku Tamu/Blogwalking!
1. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
2. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
3. Harus Sopan
4. Admin tidak meladeni Debat kusir
5. Bercanda gk boleh ada unsur pornonya dan unsur Bohongnya
6. Silahkan melampirkan link Mati, gk boleh link hidup