Home » » Jangan Malu Berkata: Aku Tidak Tahu. Bagian 2

Jangan Malu Berkata: Aku Tidak Tahu. Bagian 2

Aku Tidak Tahu
mii.fmipa.ugm.ac.id




6. Pengamalan Para Shahabat ridwanullåh ‘alayhim jamiy’an


Para shahabat pun dengan gigih mengamalkan sunnah yang mulia ini; pemuka para shåhabat, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, ash-Shidiqul Akbar, Rådhiyallåhu ‘anhu berkata:

“Bumi mana tempatku berpijak, dan langit mana tempatku bernaung; jika aku berbicara tentang kitabullåh (atas) apa yang tidak aku ketahui ilmunya:

[Atsar ini Dhåif, lihat as-silsilah adh-dhåifah (no. 1783); dinukil dari kitab tafsiyr shåhiyh ibnu katsiyr]

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang suatu permasalahan, beliau menjawab “Saya tidak tahu”. Kemudian beliau berkata lagi “Alangkah sejuknya hati ini” (tiga kali). Orang- orang bertanya: “Ya Amirul Mukminin, apa maksud perkataanmu itu ?”. Beliau menjawab: “Yaitu apabila seseorang ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya ia menjawab “Allahu A’lam”.

Ibnu Mas’ud berkata:
Barangsiapa diantara kalian yang memiliki suatu ilmu, hendaklah ia mengatakannya. Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu, katakanlah dalam permasalahan yang ia tidak ketahui itu : ‘Allaahu a’lam’ (Allah lebih mengetahuinya), karena seorang ulama itu adalah seorang yang jika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya ia akan mengatakan : ‘Allahu a’lam’. Allah telah berfirman kepada Rasul-Nya :

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنْ الْمُتَكَلِّفِينَ


‘Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”

[Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 179 – sanadnya shahih; blog abul jauzaa'].

Beliau juga berkata:
‘Sesungguhnya orang yang memberi fatwa pada setiap orang yang meminta fatwa kepadanya adalah orang gila’. Beliau pun pernah mengingkari orang yang memberanikan diri menghadapi berbagai permasalahan dan jawabannya.

Beliau juga berkata :
“Hendaknya seorang hamba bertaqwa kepada Allah dan melihat apa yang dilihat dan dikatakannya, karena kelak ia akan ditanya (atas apa yang ia lihat dan katakan itu!!)”

[Dibawakan oleh Ibnu Muflih dalam Al-Adabusy-Syari’ah 2/62, tahqiq/takhrij : Syu’aib Al-Arna’uth & ‘Umar Al-Qayyaam; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 3/1419; blog abul jauzaa'].

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaykah, bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya tentang sebuah ayat, YANG SEANDAINYA DITANYA KEPADA SELAINNYA NISCAYA ORANG ITU AKAN MENJAWABNYA, namun Ibnu Abbas DIAM, dan tidak berbicara tentangnya..

[Atsar ini SHÅHIIH, lihat tafsir ath-thåbariy (24/229), dinukil dari kitab tafsiyr ibnu katsiir]

Khalid bin Aslam berkata: ” Kami pernah berjalan bersama Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu ada seorang A’rabi (dari kampung Arab) menghampiri kami dan berkata: “Apakah engkau Abdullah bin Umar?“, beliau (Abdullah bin Umar) menjawab: ”Iya“, orang dari kampung Arab ini berkata: “Aku bertanya tentang engkau lalu aku diberi unjuk tentang keberadaan engkau, maka sekarang beritahukanlah kepadaku: “Apakah bibi mewarisi?“, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menjawab: ”Laa adri (saya tidak tahu)“, orang tersebut berkata: ”Kamu tidak mengetahuinya dan kitapun tidak mengetahuinya, (bagaimana ini?), Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: ”Iya (demikian), pergilah kepada para ulama di kota Madinah, bertanyalah kepada mereka “, ketika hendak pergi orang tersebut mencium kedua tangan Abdullah bin Umar seraya berkata: ”Sungguh baik apa yang dikatakan Abu Abdirrahman (yaitu: Abdullah bin Umar) ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui maka beliau menjawab: ”Saya tidak tahu“.

(Riwayat Hasan oleh al-Baihaqi di dalam kitab as-Sunan al-Kubra (4/no. 7021) dan disebutkan oleh Ibnu hajar di dalam kitab Taghligh at-Ta’liq (3/hal. 5)dari beberapa riwayat berasal dari Ahmad bin Syu’aib.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang sesuatu, lalu beliau menjawab: “ Laa adri (saya tidak tahu), kemudian beliau berkata: “Apakah kalian ingin menjadikan punggung kami jembatan bagi kalian di neraka Jahannam, kalian mengatakan: ” Ibnu Umar telah berfatwa dengan ini “.

(Riwayat shahih oleh al-Fasawi di dalam kitab al-Ma’rifah wa at-Tarikh (1/hal. 266) dan al-Khathib di dalam kitab al-Faqih Wa al-Mutafaqqih (2/hal: 364) dan Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Dimasyq (31/hal. 168) dari riwayat Ibnul Mubarak dari haiwah bin Syuraih dari ‘Uqbah bin Muslim.

Para Shahabat Rasulullah lainnya juga selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak mereka ketahui dengan ucapan “Allahu wa Rasuluhu A’lam” (Allah dan Rasulullah lebih mengetahui) -dan ini dapat kita lihat dalam banyak hadits- dan riwayat-riwayat lain yang semakna yang menjelaskan betapa hati-hatinya para shahabat dari menjaga lisan-lisan mereka untuk berkata sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Sumber:
http://abuzuhriy.com

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Rohis Facebook

Poskan Komentar

Terima Kasih banyak atas saran dan kritiknya.

Sama seperti peraturan yang dibuat oleh para blogger pada umumnya.., cuma disini saya harapkan agar para pengunjung untuk lebih fokus pada artikel kami yang bertemakan Agama (Islam), khususnya untuk saudara-saudari kami yang Muslim dan Muslimah.

0. Yang OOT silahkan masuk ke menu Buku Tamu/Blogwalking!
1. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
2. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
3. Harus Sopan
4. Admin tidak meladeni Debat kusir
5. Bercanda gk boleh ada unsur pornonya dan unsur Bohongnya
6. Silahkan melampirkan link Mati, gk boleh link hidup