Home » » Menyikapi Perbedaan dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan (Penting!) Bag. 2

Menyikapi Perbedaan dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan (Penting!) Bag. 2

Berpuasa Bersama Pemerintah, ini yang diajarkan oleh Rasulullah..
Oleh :  Ustadz Ahmad Hanafi, Lc, MA 
(Mahasiswa S3 Jurusan Tsaqafah Islamiyah di King Saud University Riyadh)

Simak dahulu tulisan yang pertama:
Menyikapi Perbedaan dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan (Penting!) Bag. 1
 

Puasa Ramadhan adalah salah satu bentuk ibadah jama’iyyah dalam syari’at Islam. Ia bersentuhan secara erat dengan makna keberjamaahan baik dari sisi waktu pelaksanaannya, tatacaranya, bahkan dalam beberapa sisi yang lain makna kebersamaan, persatuan, empati dan semangat berbagi kepada sesama sangat menonjol dalam amaliyah Ramadhan, seperti: sholat tarawih, sedekah dan zakat fitrah. Hal ini menunjukkah bahwa salah satu di antara maqshad (tujuan) dan hikmah disyariatkannya ibadah puasa Ramadhan adalah terwujudnya syiar kebersamaan (baca keberjama’ahan) yang solid di antara komponen ummat Islam.

Dalam konteks keberjama’ahan ummat Islam Indonesia –sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia- amatlah sangat disayangkan dan disesalkan jika dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan sering kali diwarnai oleh perbedaan antara beberapa komponen ummat (baca: ormas Islam), tanpa ada usaha yang serius dalam mencari solusi konkrit mengatasi perbedaan tersebut. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan visi keberjamaahan dan kebersamaan dalam ibadah puasa Ramadhan itu sendiri.

Padahal jika ditelusuri lebih seksama, perbedaan tersebut dapat di atasi jika tiga karakteristik ibadah Jama’iyyah di atas dapat diaplikasikan dengan penuh kedewasaan tanpa mengedepankan sikap fanatik dan egoisme masing-masing ormas yang berbeda. Tentunya dalam hal ini, peran Kementerian Agama dan MUI -sebagai pemegang mandat Waliy al-Amr seharusnya dapat lebih tegas dalam menyikapi perbedaan ini. Hal ini tentunya sejalan dengan tuntunan Nabi –Shallallahu’alaihi Wasallam- yang bersabda:

الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون
Artinya: “Puasa (Ramadhan) adalah di saat kalian semuanya berpuasa, dan (hari ‘Ied) fitri (berbuka dan tidak berpusa) adalah di saat kalian semua ber’iedul fitri, dan hari berkurban (‘Ied al-Adha) adalah di saat kalian semua berkurban.” (HR. Abu Dawud No. 2324, al-Tirmidzy No. 697 & Ibn Majah No. 1660. Dan hadits ini disahihkan oleh syekh al-Albaniy dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud 2/50 & Shahih Sunan al-Tirmidzy 1/375).

Imam al-Tirmidzy berkata: “Makna (hadits) ini adalah bahwasanya (pelaksanaan) puasa dan idul fitri dilakukan bersama jamaah dan mayoritas manusia (kaum muslimin). (Sunan al-Tirmidzy, No. 697).

Imam al-Khattabiy berkata: “Makna hadits adalah bahwasanya kesalahan dalam masalah ijtihad adalah perkara yang ditolerir dari ummat ini, jika sekiranya satu kaum berijtihad lantas menggenapkan puasa mereka sebanyak (30 hari) lantaran mereka tidak melihat hilal kecuali setelah tanggal 30 (Ramadhan), kemudian terbukti bahwa (Ramadhan) hanya berjumlah 29 hari. Maka puasa dan ‘Ied Fitri mereka tetap sah, dan tidak ada dosa dan celaan buat mereka. Begitu juga dalam ibadah haji jika sekiranya mereka salah dalam (menetapkan) hari Arafah maka mereka tidak perlu mengulangi haji mereka, dan begitu juga dengan kurban mereka hukumnya tetap sah, dan sesungguhnya ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang dan kelembutan Allah terhadap hamba-Nya.” (Dinukil oleh Ibn al-Atsir dari al-Khattabiy dalam kitab Jami’ al-Ushul 6/378).

Apalagi jika setiap ormas Islam yang berbeda pendapat itu memahami makna salah satu kaidah fikih “Hukm al-Haakim Yarfa’ al-Khilaf” yang bermakna Keputusan yang ditetapkan oleh hakim/pemerintah menyudahi perbedaan yang didasarkan oleh perbedaan ijtihad. Wallahu Ta’ala A’lam Wa Ahkam.*/Dir’iyyah, 19 Sya’ban 1433 H.


Tamat.

Baca juga Penting:
Ikut Pemerintah Dalam Penentuan Masuk dan Keluarnya Ramadhan 
Video Penentuan Awal Ramadhan Ikut Pemerintah atau Ormas Islam?  
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Rohis Facebook

+ Create Comment + 24 Responses so far.

20 Juli 2012 06.11

sikap toleransi yang dipentingkan :)

20 Juli 2012 06.16

inilah hikmahnya islam, saling menghargai bukan saling mencaci. coba kalay kaya gini terus dalam setiap urusan, mencari persatuan.

20 Juli 2012 08.30

Bener sob. Perbedaan pendapat (hampir) selalu terjadi di setiap penentuan awal puasa. Hmmm. . .

20 Juli 2012 09.01

mohon maaf lahir dan bathin "selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadhan"

20 Juli 2012 12.44

Selamat datang bulan puasa, semoga puasanya lancar.

20 Juli 2012 13.27

Msalah bgini terus berlarut-larut tiap thunya ...

20 Juli 2012 14.41

Kita hanya umat biarlah para alim ulama dan para ahli di bidang nya yg menentukan hasilnya.. :)
Bukan perbedaan yg kita besar2kan,namun persamaan nya mempunyai tujuan yg sama.. Setuju ga sob.. :)

Anonim
20 Juli 2012 15.39

An suka dengan kalimat berikut: "Dalam konteks keberjama’ahan ummat Islam Indonesia –sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia- amatlah sangat disayangkan dan disesalkan jika dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan sering kali diwarnai oleh perbedaan antara beberapa komponen ummat (baca: ormas Islam), tanpa ada usaha yang serius dalam mencari solusi konkrit mengatasi perbedaan tersebut."
Siip..semoga di tahun berikutnya bisa berpuasa dan berhari raya bareng keluarga ^^

(www.aniamaharani.blogspot.com)

Saya ngikut pemerintah aja lah.. "Marhaban ya Ramadan" mohon maaf lahir batin ya sob..

20 Juli 2012 15.42

Mohon maaf lahir batin ya sahabat..

20 Juli 2012 16.24

puasa hari ini ataupun besok menurutku sih g masalah, dua-duanya sama2 punya dalil yang kuat. balik lagi sama kepercayaan masing2. toh perbedaan jika dilengkapi sama tolenransi hasil akhirnya akan indah.

selamat berpuasa dan mohon maaf lahir batin ^^

20 Juli 2012 20.19

aku dah simak yang bagian 1 kak ehhe intinya aku ikut pemerintah kak wkkwk kan kita masih ada pemimpin.. hehe tapi gak salah juga sih ada perbedaan yang penting tujuan nya sama,mau menunaikan ibadah puasa hehe :D oke kak selamat menunaikan ibadah puasa :D

20 Juli 2012 20.55

tapi kalo keseringan beda mah atuh kesannya kaya gimana gitu. padahal dulu-dulu kan sama terus. #no offense

21 Juli 2012 00.14

keyakinan itu lebih kuat sob
maunya sih tidak ada perbedaan waktu untuk puasa jika kebersamaan terjalin kan lebih abdol.... huuh pusing juga tapi saya ikut pemerintah aja
sori sob baaru balas blog aku kna hacker

21 Juli 2012 10.24

repot memang ya sob..
oiya, ma'af ya sob, saya baru bisa hadir :)

21 Juli 2012 10.26

Mampir lagi sob. Met menunaikan ibadah puasa.

21 Juli 2012 14.21

Soal perbedaan tu dah sering terjadi

21 Juli 2012 14.26

Smoga Umat Islam di Indonesia selalu diberikan keberkahan dalam menyikapi perbedaan... dan smoga Ramadhan kita dapat beribadah semaksimal mungkin.. :)
BLogwalking rutin di sini dengan bagi-bagi MP3 Inspiratif Bag. XVII, mohon direview Sob... :)
Thanks, Salam bLogger

22 Juli 2012 00.56

makasi buat artikelnya., bermanfaat

22 Juli 2012 07.11

marhaban ya ramadhan,
mhon ma'f lahir kawan!

22 Juli 2012 07.11

marhaban ya ramadhan,
mhon ma'f lahir kawan!

22 Juli 2012 07.37

Kunjungan pagi sob. Selamat puasa.

22 Juli 2012 22.40

postingannya sungguh sangat mencerahkan hati ini..
terima kasih pencerahannya sahabatku..

23 Juli 2012 10.00

Mampir lagi sob. Selamat puasa .

Komentar baru tidak diizinkan.