Home » » CATATAN AKHIR TAHUN

CATATAN AKHIR TAHUN


Bismillahirrahmanirrahim

Sahabat fillah….

Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 1436 H. Sebelum fajar di tahun esok menjelang, ada baiknya kita melihat kembali lembaran-lembaran hari yang telah kita lalui. Iya, melihat kembali masa lalu, bukan untuk terus tenggelam, tapi untuk bangkit dan menjadi manusia baru di sisa waktu yang ada.

Bergantinya siang dan malam, hari demi hari, musim demi musim, tahun demi tahun semestinya membuat kita sadar bahwa saat ini kita sedang berada dalam sebuah perjalanan. Sejak kita dilahirkan, sejak itulah pengembaran kita dimulai, lalu kita belajar untuk mengerti bahwa dunia hanyalah tempat singgah, dan setelah itu tak ada lagi kecuali dua pilihan, indahnya surga atau pedihnya neraka wal iyaadzu billah.

Muhasabah .. Mungkin itulah hal yang tepat untuk kita lakukan sebelum memasuki tahun baru 1437 H esok. Muhasabah berarti melihat kembali setiap lembaran hidup yang pernah kita lalui, apakah ada amal sholeh yang sudah kita persembahkan untuk terus kita tingkatkan ditahun yang akan datang, atau kekurangan-kekurangan yang nantinya akan kita perbaiki disaat fajar esok menjelang.

Allah azza wa jalla berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS: Al-Hasyr: 18)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Setiap hamba semestinya memiliki waktu-waktu tertentu dimana dia menyendiri di dalamnya dengan do’a, dzikir,shalat, tafakkur dan untuk melakukan muhasabah terhadap dirinya serta memperbaiki kondisi hatinya).”(Al-Majmu’ Jilid:10).

Jauh sebelum Syaikhul Islam, Imam Al-Hasan Al-Basri telah menyinggung urgensi muhasabah dalam ungkapannya yang berbunyi: "Manusia akan senantiasa dlm kebaikan selama masih ada penasehat dlm hatinya, dan muhasabah selalu menjadi obsesinya"(Mawaa'idz Hasan Al-Basri).

Sahabat fillah mungkin bertanya, "Mengapa harus muhasabah...?"
Karena dengan muhasabah kita telah memberi peluang bagi jiwa untuk merespon berbagai perubahan dalam hidup yang selama ini kita jalani, mengajak kita untuk melihat kembali keadaan diri dengan usia yang pada hakikatnya semakin berkurang.
Melihat berarti mengevaluasi, lalu merevisinya ke arah yang lebih baik. Ini bukan pekerjaan yang mudah, ditengah banyaknya orang yang tidak mau melihat kembali rekam jejak hidupnya, apalagi berfikir untuk merubahnya.

Muhasabah juga akan mengilhami diri untuk melakukan berbagai perbaikan disaat yang lain tak peduli dengan perguliran waktu, sehingga cenderung membiarkannya mengalir sepeti air, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas. Padahal kita sering membaca sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang mendatangkan manfaat bagimu dan jangan merasa lemah”.

Lebih jauh Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu menegaskan hal yang semakna dalam ungkapannya yang masyhur, "Tiada hari yang lebih aku sesali selain hari dimana mataharinya tenggelam dihari itu, umurku berkurang sementara amalku tidak bertambah". Bagi orang beriman, bergantinya masa berarti bertambahnya ketakwaan dan ketaatan kepada Allah.

Sahabat….
Ditengah padatnya rutinitas kerja, luangkanlah waktu sejenak untuk bertanya pada diri, "Sudah sejauh mana kita melangkah? dan seberapa banyak bekal yang telah kita siapkan?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kita butuh kesadaran yang mendalam.
Iya, Kesadaran bahwa semua akan berakhir dan berbalas.
Kesadaran, bahwa kita hanya akan mengetam apa yang kita tanam.
Kesadaran, bahwa kita sedang berpacu dengan waktu.
Kesadaran, bahwa kematian lebih cepat datangnya dari semua angan-angan yang kita miliki.
Pertanyaan- pertanyaan itu harus segera terjawab sebelum hidup digerogoti usia hingga tak lagi bisa melakukan perubahan yang berarti.

Di dalam kitab Hilyatul auliya’ Abu Nuaim -rahimahullah- mengisahkan:
Suatu hari Fudhail bin Iyadh bertemu dengan seseorang. Beliau lantas bertanya kepada orang itu: "Berapa umur anda?".
"Enam puluh tahun", jawab laki-laki itu.
"Kalau begitu sejak enam puluh tahun yang lalu anda sudah berjalan menuju Allah, dan perjalananmu hampir saja tiba."
"Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn", ujar lelaki itu.
"Apakah anda tahu maknanya?" Tanya Fudhail.
Lelaki itu menjawab: "ya, saya tahu. Saya adalah hamba Allah dan hanya kepada-Nya saya akan kembali."

Fudhail lalu menasehatinya:

ﻳﺎ ﺃﺧﻲ، ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﺃﻧﻪ ﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪ، ﻭأنه ﺇﻟﻴﻪ ﺭﺍﺟﻊ، ﻓﻠﻴﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ، ﻓﻠﻴﻌﻠﻢ ﺍﻧﻪ ﻣﺴﺌﻮﻝ، وﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ مسئول ﻓﻠﻴﻌﺪ ﻟﻠﺴﺆﺍﻝ ﺟﻮﺍﺑﺎ"

"Wahai saudaraku...
Barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah dan hanya kepada-Nya ia kembali, hendaknya dia juga menyadari bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya dan akan ditanya (oleh-Nya). Dan barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya akan ditanya maka hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut."
Laki-laki itu pun menangis lantas bertanya kepada Fudhail: "lalu apa yang harus aku perbuat?"
"Mudah", jawab Fudhail.
"Apa? Semoga Allah merahmatimu." Tanya laki-laki itu lagi.
Fudhail menasehatinya lagi:

ﺗُﺤﺴﻦ ﻓﻴﻤﺎ بقي، ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻚ ﻣﺎﻗﺪ ﻣﻀﻰ ﻭﻣﺎ بقي، ﻓﺈﻧﻚ ﺇﻥ ﺃﺳﺄﺕ ﻓﻴﻤﺎ بقي ﺃُﺧﺬﺕ ﺑﻤﺎ ﻣﻀﻰ ﻭﻣﺎ بقي

"Berbuat baiklah disisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah lalu dan yang masih tersisa dari umurmu . Namun bila engkau berbuat keburukan pada apa yang masih tersisa niscaya engkau akan dihukum atas apa-apa yang telah lalu dan yang masih tersisa darimu."

Sungguh nasehat yang luar biasa.

Sahabat fillah…
Anda mungkin pernah membaca kisah saat Rasulullah memegang pundak Ibnu Umar dan berkata,

”Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pengembara.”

Ibnu Umar –radhiallahu anhuma- berkata:
”Jika engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu pagi tiba. Dan jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu sore tiba, pergunakan masa sehatmu untuk masa sakitmu, dan kehidupanmu untuk kematianmu.”(HR. Bukhari)
Atau membaca sabda beliau yang berbunyi:

“Apa urusanku dengan dunia? sungguh perumpamaanku dengan dunia laksana seorang pengembara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian berlalu dan meninggalkannya”(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Atau pesan Ali –radhiallahu anhu- yang berbunyi

”Sesungguhnya dunia telah pergi berlalu dan akhirat telah datang dihadapan. Keduanya memiliki anak-anak . Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak anak dunia, karena hari ini (hari-hari dunia) adalah hari untuk beramal dan bukan (hari) perhitungan dan esok adalah (hari) perhitungan dan bukan (hari untuk) amal.

Atau pesan Al-Hasan yang Masyhur:

“wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Jika berlalu sebagian dari harimu ,maka berlalu pula sebagian dari dirimu”. “wahai anak Adam, sesungguhnya engkau berada diatara dua kenderaan yang siap mengantarkanmu. Siang mengantarkanmu pada malam dan malam pun mengantarkanmu pada siang. Selanjutnya keduanya akan mengantarkanmu pada akhirat, maka siapakah yang lebih besar marabahayanya darimu wahai anak adam? Sungguh tali kematian telah diikatkan diatas ubun-ubun setiap kalian, sementara dunia dilipat dari belakang kalian."

Kedua hadits dan atsar diatas pada hakikatnya sedang mengajari kita tentang logika kehidupan yang harus kita pahami lebih dalam, bahwa hidup tak ubahnya seorang musafir yang lewat kemudian mampir untuk berteduh selanjutnya pergi untuk meneruskan perjalanan. Pemaknaan yang baik terhadap logika itulah yang nantinya akan membuat hidup kita menjadi berarti atau mungkin berbalik tak ubahnya seperti mobil tua yang hanya memberi nilai pada sisi sejarah tanpa bisa mengantarkan penumpangnya pada cita-cita yang dituju. Dan
itu tak boleh terjadi, sebab hidup hanya datang sekali. Gerak dan pilihan untuk terus maju dan memperbaharui diri adalah prinsip besar yang harus kita pilih sebelum semuanya terlambat.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat untuk kami pribadi dan pembaca sekalian.

Baarakallahu fiikum

Wallahu ta’ala a’lam

_______________________
Madinah 29 Dzulhijjah 1433 H
ACT El Gharantaly.
Ditulis ulang dengan berbagai perubahan pada 30 Dzulhijjah 1436 H

Sumber:
Fb: Aan Chandra Thalib

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Rohis Facebook

Posting Komentar

Terima Kasih banyak atas saran dan kritiknya.

Sama seperti peraturan yang dibuat oleh para blogger pada umumnya.., cuma disini saya harapkan agar para pengunjung untuk lebih fokus pada artikel kami yang bertemakan Agama (Islam), khususnya untuk saudara-saudari kami yang Muslim dan Muslimah.

0. Yang OOT silahkan masuk ke menu Buku Tamu/Blogwalking!
1. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
2. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
3. Harus Sopan
4. Admin tidak meladeni Debat kusir
5. Bercanda gk boleh ada unsur pornonya dan unsur Bohongnya
6. Silahkan melampirkan link Mati, gk boleh link hidup