Home » » APA SETELAH HAJI..?

APA SETELAH HAJI..?

APA_SETELAH_HAJI_?

Bismillah. .

Alhamdulillah... Baru saja kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia menyelesaikan rangkaian manasik ibadah haji. Muda-mudahan Allah azza wa jalla menerima Amal ibadah mereka tanpa terkecuali.

Pada hakikatnya, ibadah haji ibarat madrasah atau pesantren kilat, di dalamnya seorang muslim belajar banyak hal, belajar bersabar, belajar istiqamah dengan menunaikan shalat berjamaah tepat pada waktunya, belajar saling menjaga dan memiliki, belajar saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran dan banyak lagi. Maka sudah seharusnya saat kembali dari madrasah haji tersebut ia bisa berbuat yang lebih, atau paling tidak menjaga amalan-amalan yang telah ia lakukan selama berada di tanah suci. Talbiyahnya tidak terputus, bahkan talbiyah dalam makna pemenuhan tetap menjadi pandu dalam hidupnya. Hanya saja Ucapan "labbaikallah" itu terealiasasi dalam bentuk amal nyata, yaitu dalam rangka memenuhi seruan Allah dan Rasu-Nya. Allah Azza wa jalla berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul mengajak kalian kepada perkara yang bisa memberikan kehidupan kepada kalian.Ketahuilah Allah menghalangi/membatasi antara manusia dan hatinya, dan sungguh hanya kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.” (al-Anfal:24)

Ada banyak tafsiran ulama mengenai firman-Nya yang berbunyi, "sesuatu yang bisa memberikan kehidupan kepada kalian". Namun semua tafsiran itu kembali pada makna risalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Risalah itulah yang menghidupkan jiwa-jiwa yang mati, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Barang siapa yang tidak memenuhi seruan risalah itu maka Allah akan memalingkan hatinya dari petunjuk. Allah berfirman,
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (al-An’am: 110)
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah pun memalingkan hati mereka.” (ash-Shaff: 5)
Semoga Allah menjaga hati kita, agar tidak berpaling dari petunjuk-Nya.

Iya. .. Talbiyah haji telah berlalu. .. kini talbiyah itu untuk menyambut seruan adzan, zakat dan puasa..

Saudaraku...
Di negeri kita tercinta, seseorang yang telah menunaikan ibadah haji secara otomatis akan menjadi panutan. Ucapannya didengar dan pandangan-pandangannya diperhitungkan, maka sudah selayaknya ia menjaga tutur katanya dan memperlihatkan akhlak nabawi kepada orang-orang yang tinggalkannya. Sebab perubahan dirinya adalah hadiah terindah untuk mereka yang menunggu kepulangannya.

Harus disadari bahwa perjuangan untuk menjadi haji yang mabrur belumlah usai dengan kembalinya ia di tanah air , sebab untuk teguh di atas iman yang baru saja mekar setelah dipupuk selama di tanah suci merupakan perjuangan yang berat. Apalagi bila kita melihat kondisi kehidupan sekitar, dimana fitnah (ujian) baik dalam bentuk syubhat maupun syahwat tersebar dimana-mana. Seolah tak ada lagi ruang bagi kita untuk bertahan. Perlahan namun pasti, fitnah yang menjamur itu menggiring sebagian jiwa pada keterasingan kedua, sehingga orang yang berpegang teguh pada agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api.

Setelah menunikan ibadah haji, kebutuhan seseorang terhadap faktor- faktor yang dapat meneguhkan iman jauh lebih besar dari pada kebutuhannya sebelum menunakan ibadah haji. Perjuangan untuk merealisasikannya pun lebih berat, karena lingkungan yang mudah berubah, sedikitnya kawan juang yang mau membantu, ditambah lagi dengan kondisi hati yang suka berbolak balik (taqallub). Sehingga untuk meneguhkan sesuatu yang mudah terbolak balik itu membutuhkan upaya yang maksimal.

Di antara kasih sayang Allah ta'ala kepada hamba-Nya, Dia telah menjelaskan di dalam kitab-Nya yang mulia juga melalui sabda Rasul-Nya berbaga kiat yang dapat membuat seseorang teguh dan istiqomah di atas hidayah-Nya. Di antara kiat-kiat itu adalah :

1 . Berpegang teguh kepada Al Qur'an.
Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشّـِرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ اَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً


"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke jalan yang amat betul(agama islam),dan memberikan berita yg menggembirakan orang-orang beriman yang mngerjakan amal-amal sholeh,bahwa mereke beroleh pahala yang besar."(Al-lsra:9)

Al Qur'an merupakan pijakan kuat bagi hati, ia merupakan tali Allah yang kuat, cahaya yang akan selalu menerangi jalan hamba-hamba-Nya. Siapa yang menyeru kepadanya niscaya akan dibimbing ke jalan yang lurus.

Al-Qur'an membekali seorang muslim nilai-nilai yang shahih (benar). Dimana dengannya dia dapat menilai keadaan disekitarnya. Al Qur'an juga membekali seorang muslim dengan standar hukum yang mencakup berbagai hal, sehingga dia tidak ragu dalam menentukan hukum dalam setiap kondisi, ucapannya tidak akan kontradiktif walau dalam kondisi yang berbeda. Dan cukuplah kemunduran umat ini sebagai akibat jauhnya Kita dari Al Qur'an.

2. Jujur dalam beriman dan beramal sholeh.
Allah Azza wa Jalla berfirman : "Allah (akan) meneguhkan (iman) orang orang yang beriman dengan ucapan yang teguh pada kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah (akan) menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki" (QS : Ibrahim : 27) Dan firman-Nya : "Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)".(QS: An Nisa:66).

Poin ini jelas, sebab keteguhan tidak diraih dengan bermalas-malasan dan berpangku tangan. Oleh karena itu Rasulullah -shallahu alaihi wasallam- sebagai manusia terbaik yang telah diampuni dosanya di masa lalu dan yang akan datang, tetap melakukan amal shaleh sebagai wujud rasa syukur beliau kepada Allah.

Pilihlah amal sholeh yang bisa dijaga kontinyuitasnya. Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara berkesinambungan walaupun amalan itu sedikit." (HR.Bukhari)

3. Tempuhlah jalan yang benar
Satu-satunya jalan yang wajib di tempuh oleh setiap muslim adalah jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam dan Para sahabatnya -radhiallahu anhum-. Sahabat Irbadh bin Saariyah mengisahkan: " Suatu ketika Rasulullah shallahu alaihi wasallam memberi kami wejangan dengan wejangan yang menggetarkan hati dan membuat air mata kami berderai. Kami lantas berkata :" Wahai Rasulullah.. Seolah-olah ini adalah nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat..! Rasulullah shallahu alaihi wasallam kemudian bersabda : "Kuwasiatkan kepada kalian untuk mendengar dan taat, meski yang memimpin kalian adalah budak Habasyah (ethiophia). Sungguh barang siapa di antara kalian yang diberi umur panjang, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka bagi kalian sunnahku dan sunnah Khulafaurrashidiin setelahku, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara yang baru (dalam agama) sebab segala perkara yang baru adalah bid'ah" (HR. Abu Daud, At tirmidzi dan Ibnu Majah dari sahabat Irbadh Ibnu Saariyah Radhiallahu anhu).

Demikianlah.. Rasulullah shallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa perpecahan dan perselisihan akan terjadi di tubuh umat ini. Dan satu-satunya jalan keluar dari ujian itu adalah kembali pada petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.

4. Carilah orang-orang yang bisa memotivasi diri
Sifat orang tersebut tergambar dalam sabda Rasulullah shallahu alaihi wasallam yang berbunyi: "Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci kunci kebaikan dan penutup segala keburukan. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadi pintu segala keburukan dan penutup segala kebaikan. Maka berbahagialah orang yang dijadikan Allah sebagai kunci segala kebaikan dan celakalah orang yang Allah meletakkan ditangannyanya kunci segala keburukan." (HR.Ibnu Majah).

Mencari Ulama, orang-orang shaleh atau para da'i yang sholeh, serta selalu berada ditengah-tengah mereka memiliki pengaruh yang sangat besar dalam meneguhkan iman seorang muslim.

5. Pupuklah sifat yang dapat menjadi sumber keteguhan
Di antara sifat yang dapat menjadi sumber keteguhan adalah sifat sabar. Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada karunia yang lebih baik dan lebih luas yang diberikan kepada seseorang melebihi sifat sabar".

Kesabaran yang paling tinggi nilainya adalah kesabaran yang muncul di awal ujian menimpa. Disamping itu ada juga kesabaran yang tak kalah pentingnya, yaitu bersabar untuk tidak kembali pada kebiasaan-kebiasan buruk di masa lalu atau dalam makna sederhana, "sabar dalam ketaatan".

6. Perbanyak mengingat kematian
Rasulullah Shallahu alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kalian memperbanyak mengingat sesuatu yang akan menghancurkan segala kelezatan (yaitu kematian)". (HR. At Tirmidzi)
Dengan mengingat kematian kita akan termotivasi untuk selalu mempersembahkan amal terbaik, karena kematian datang kapan saja tanpa mengenal waktu, tak peduli kita siap atau tidak. Kesadaran ini akan membimbing kita untuk sedia setiap saat menjemput kematian

7. Memupuk Persaudaraan
Seorang muslim akan kuat bila ia bersama saudaranya, Rasulullah menggambarkan kebersamaan kaum muslimin seperti bangunan kokoh yang saling menguatkan. Beliau shallahu alaihi wasallam bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Orang mukmin bagi mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. (HR: Bukhori Muslim)

Dalam riwayat Bukhari terdapat tambahan:

وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ


Kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam menggabungkan jari-jari tangan beliau.

Lebih jauh beliau shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa:

مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى


Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih, sayang dan kecenderungan jiwa (simpati) seperti perumpamaan jasad/tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya, yaitu tidak bisa tidur dan (sakit) demam. (HR. Muslim)

Coba perhatikan peristiwa yang kita alami sehari-hari. Saat kaki tersandung , seluruh bagian tubuh bersimpati dan empati. Otak memerintahkan kaki untuk berhenti berjalan, mata berkaca-kaca, lisan membaca istirja‘ (innâ lillâhi...), bibir melengkung ke bawah bak busur panah , tangan pun turut serta memegang dan memijit bagian yang sakit. Hebatnya, semua itu terjadi secara spontanitas. Begitulah seharusnya orang-orang beriman dalam hal persaudaraan.

Agar keakraban itu tetap harmoni, Rasulullah shallallah mengajarkan pada ummatnya rambu-rambu yang harus diperhatikan setiap individu dalam menjalin persaudaraan, beliau bersabda:" Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing (pada hal-hal yang negatif), saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi sehingga menipu pembeli agar membayar lebih tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas penawaran orang lain. Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang di perintahkan Allah kepadamu. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiayanya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya. Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini, takwa itu ada disini kata Rasulullah Shallahu alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya. Cukuplah merupakan keburukan bagi seseorang apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lainnya adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya (untuk di rusak dan ditumpahkan). Jauhilah prasangka buruk karna sesungguhnya prasangka buruk adalah sedusta dustanya pembicaraan.Sesungguhnya Allah tidak melihatmu pada bentuk rupa dan hartamu, tetapi Dia melihat hati dan perbuatanmu." (HR.Bukhari, Muslim)

Beliau juga bersabda : "Muslim sejati adalah orang yang dimana muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR.Bukhari, Muslim)
Dan sabdanya: "Mencaci orang islam adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran." (HR.Bukhari) dan sabdanya: "Bukan mukmin yang sempurna, yang suka mencemarkan kehormatan, mengutuk, buruk akhlak dan suka berbicara kotor." (HR.Muslim)

8. Berdakwah
Jiwa yang tidak dilatih untuk produktif dalam kebajiakan akan menjadi pasif dan rusak. Termasuk medan yang paling baik bagi jiwa untuk bergerak adalah dakwah di jalan Allah. Dengan dakwah, potensi akan tersalurkan dan sebuah misi kehidupan akan terlaksana. Dakwah yang kami maksud adalah dakwah dalam arti yang luas. Sebab dakwah tidak selalu di atas mimbar-mimbar masjid atau pada kajian-kajian ilmiah dan majelis-majelis ta'lim. Mengingatkan orang lain tentang kewajibannya sebagai makhluk juga termasuk dakawah. Misalnya seorang atasan mengingatkan kepada bawahannya :" Ayo, waktunya sholat" itu sudah termasuk berdakwah. Jadi, kapan saja ada kesempatan untuk berdakwah, maka jangan menunda hingga kesempatan tersebut hilang.

9. Memperbanyak Do'a
Merupakan karakter hamba Allah yang beriman adalah senantiasa memanjatkan do'a kepada Allah. Karena itu, mintalah keteguhan kepada Allah dalam do'a. Di dalam Al-Qur'an Allah mengajari kita do'a peneguhan, sebagaimana dalam firman-Nya : "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau goyahkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk." (QS : Ali Imron ayat :8). Karena "semua hati anak Adam berada di antara dua jari Ar Rahman, Dia membolak balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki." (HR. Imam Ahmad). Tak heran bila Rasulullah shallahu alaihi wasallam senantiasa membaca dalam do'anya : " Wahai yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu."(HR. Tirmidzi)

Pembaca sekalian …
Sesungguhnya diantara tanda-tanda diterimanya amal sholeh seorang adalah adanya kontinyuitas amal setelah amal sholeh tersebut, adanya perubahan diri dari keadaan yang buruk pada keadaan yang baik, dan dari keadaan yang baik pada keadaan yang jauh lebih baik. Sebagaimana diantara tanda di tolaknya amalan seorang hamba adalah bila keadaannya setelah beramal jauh lebih buruk dari keadaan sebelum beramal. Akhirnya, kami berharap semoga Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita nikmat tsabat (keteguhan) dan istiqomah dalam beragama dalam setiap kondisi.
Semoga badah haji yang kita tunaikan tahun ini dapat memberi pengaruh dalam kehidupan kita di masa yang akan datang.

Amin

Wallahu ta’ala a’lam

ACT El-Gharantaly.
Mina, Makkah Al Mukarramah, Rabu Hari tarwiyah 8 Dzul Hijjah 1433 H – 24 Oktober 2012 M.
Disunting kembali dengan beberapa perubahan di Tual King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) pada hari rabu 7 Dzulhijjah 1435 H

Sumber:
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Rohis Facebook

Poskan Komentar

Terima Kasih banyak atas saran dan kritiknya.

Sama seperti peraturan yang dibuat oleh para blogger pada umumnya.., cuma disini saya harapkan agar para pengunjung untuk lebih fokus pada artikel kami yang bertemakan Agama (Islam), khususnya untuk saudara-saudari kami yang Muslim dan Muslimah.

0. Yang OOT silahkan masuk ke menu Buku Tamu/Blogwalking!
1. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
2. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
3. Harus Sopan
4. Admin tidak meladeni Debat kusir
5. Bercanda gk boleh ada unsur pornonya dan unsur Bohongnya
6. Silahkan melampirkan link Mati, gk boleh link hidup