Home » » Sorenya di Ufuk Barat, Esoknya di Ufuk Timur

Sorenya di Ufuk Barat, Esoknya di Ufuk Timur



Riyadhush Shalihin karya al-Imam an-Nawawy -rahimahullah- adalah sample yang paling nampak berkah dan anugerah dari Rabb kita terhadap penulisnya, penulisannya dan umat yang mengikuti petunjuk-Nya juga Rasul-Nya. Dahulu, pernah kita selenggarakan kajian rutin kitab ini di sore menjelang Maghrib di sebuah masjid, tepatnya di bagian kelas. Alhamdulillah kala itu berlangsung. Hingga pada kemudian jenak masa, terbit suramnya kelesuan.

Lesu terlesu kala itu adalah ketika sang pengajar persiapkan segala kebersihan kelas, fasilitas semacam kamera, infocus dan hal-hal lain. Hujan-hujan tak tertahan mengguyur di perjalanan menujunya. Hasilnya adalah tiada seorang pun datang. Hingga pengajar tersebut terdiam di kursinya, tempat ia biasa menuturkan apa yang termampu dan terpunya. Sore itu dengan kemendungannya, tiada kata tertutur. Yang Maha Tahu apa yang ada di batinnya adalah Penciptanya. Yang mencatat kala itu adalah malaikat utusan-Nya. Yang mungkin juga menyaksikan adalah jin-jin di sana.

Yang teringat kala itu adalah kisah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin di awal masa mengajar -di usia 25-30-an. Dikisahkan hingga beliau sendirian muraja'ah di singgasana keguruannya. Sementara tak satupun kemudian tiba. Kisah itu menginspirasi untuk menelaah kembali kitab-kitab Syarh terhadap Riyadhush Shalihin. Dirangkulnya di qalbunya dua kitab: Bahjatun Nazhirin dan juga Syarh-nya Syaikh ibn al-Utsaimin, yang dia membelinya dengan harga mahal tak tertawar; habiskan cukup banyak perbendaharaan. Karena fikirnya, jika kelak suatu kemahalan tak tertawar namun bisa bermanfaat banyak sekali, maka jangan fikir tentang kekurangan harta, melainkan fikirkan bahwa kelebihan ilmu dan amal adalah kekayaan yang tak bisa ditawar benda.

Hingga kemudian kajian itu bubar; karena memang sudah pantasnya bubar. Wasiat terakhir di malam yang deras hujannya, pada 3 makhluk Allah Ta'ala terduduk di kelas: 'Jangan pernah menyerah dalam menuntut ilmu meskipun kesepian begitu tertabuh bertalu-talu'.

Dan -alhamdulillah-, kini ada kembali kajian kitab Riyadhush Shalihin, sebagai upaya perintisan di suatu daerah terbilang sunyi di Cilangkap. Upaya di depan hamba-hamba Allah yang tadinya tidak pernah (atau tidak mau) ikut kajian. Dan bukanlah kajian tematik yang ditawarkan, melainkan sekalian saja kajian rutin kitab. Alhamdulillah masih berjalan, dan insya Allah terus berjalan, juga ternyata -alhamdulillah- satu per satu mulai ikutan.

Ada semacam luka yang terlalu perih untuk dikenang, namun terlalu indah untuk dilupakan. Karena bagi seorang muslim, sewajibnya menganggap segala taqdir buruk pasti berhikmah. Selama ikhlasmu, pasti ada bekasnya. Dan selama tidak ikhlasmu, pasti ada dosanya.

Luka itu kembali terkenang, ketika suatu pagi saya numpang di mobil seorang peserta kajian rutin, yang dulu juga pernah ikut kajian Riyadhush Shalihin di kelas tersebut. Bersama beberapa sahabat, kita menuju suatu kabupaten untuk memantik sedikit semangat dan motivasi anak-anak muda. Pengemudinya, yang adalah anak kajian kami, sedang setel ngaji (mp3) yang dari FlashDisc-nya.

Beberapa momen kemudian, saya mendengar suara saya sendiri di mobil itu. Ya. Ini suara saya. Ini kajian saya. Ternyata benar. Ini adalah kajian Riyadhush Shalihin dulu. Tiba-tiba badai kenangan menyeruak. Lidah saya tak bisa diam untuk tidak berbicara mengumandangkan kegembiraan dan keterkenangan, sementara qalbu saya bukan main rasanya. Ternyata itu adalah mp3 rekaman dahulu; yang sang pengemudi dikasih oleh seorang peserta kajian lain yang merekam langsung. Suaranya jelas. Ternyata masih ada yang menyimpan dan mendengarnya. Alhamdulillah.

Bahwa tiada yang sia-sia kalau memang mau usaha dan mengharap pada-Nya.

Cukup menikmati beberapa momen dengan kajian lama itu. Dan memang enak sekali mendengar kajian, dan juga ngaji mp3 di mobil. Sejak lama pula saya meminta kepada Rabb Yang Maha Kaya, mobil yang bagus dan kemampuan mengemudi yang bagus. Semoga kelak kalau sudah berkeluarga, harapan kecil ini terwujud.

Saya melihat banyak penjahat punya harapan duniawi, dan harapan mereka benar-benar Allah penuhi, sebagai ujian, bala dan balasan keburukan qalbu mereka. Apalah lagi jika Anda mengharap harapan ukhrawi atau duniawi yang bermanfaat untuk akhirat? Tentulah Allah Ta'ala lebih mendahulukan Anda daripada mereka.

Karena itu, ingatlah 3:

Raja' (Harapan)
Khauf (Rasa Takut), dan
Mahabbah (Cinta)

Berharaplah harapan baik, bermanfaat dan indah untuk dunia dan akhiratmu. Ini raja'.

Namun sisipkan dengan adanya rasa takut, jikalau kelak akan dihisab karena tidak mensyukuri nikmat harapan yang terwujud. Ini khauf.

Dan kesemua itu, dapat segera atau tidak, berapapun banyaknya yang kamu miliki, wujudkan rasa cintamu pada Allah Yang Maha Memberi. Jangan pernah mencintai suatu atau seorang makhluk karena makhluk secara dzat; tetapi cintailah cinta di jalan Rabb-nya. Ini mahabbah.

Boleh jadi sesakmu kini ibarat ufuk barat di sore hari menuju kekelaman.
Tetapi bukankah esok hari masih ada ufuk timur yang semoga akan bersinar darinya bayu mentari?

Sumber:
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Rohis Facebook

Poskan Komentar

Terima Kasih banyak atas saran dan kritiknya.

Sama seperti peraturan yang dibuat oleh para blogger pada umumnya.., cuma disini saya harapkan agar para pengunjung untuk lebih fokus pada artikel kami yang bertemakan Agama (Islam), khususnya untuk saudara-saudari kami yang Muslim dan Muslimah.

0. Yang OOT silahkan masuk ke menu Buku Tamu/Blogwalking!
1. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
2. Komentar yang berbau JUDI/TOGEL, Porno tidak akan di Moderasi!
3. Harus Sopan
4. Admin tidak meladeni Debat kusir
5. Bercanda gk boleh ada unsur pornonya dan unsur Bohongnya
6. Silahkan melampirkan link Mati, gk boleh link hidup